B-O-D-O-H, pernah melihat orang bodoh? Belum? Jangan khawatir, kalian tidak perlu mencari hingga ujung dunia. Lihat saja pemilik blog ini. Ya, aku pernah menjadi orang bodoh. Ah.. sedang bukan pernah. Menyakitkan memang bila aku mengenang semuanya. Ah! Bagaimana aku bisa sebodoh ini sebelumnya? Dimana aku yang dulu? Seorang yang tak berbeban, kini tak berbeda jauh dengan keledai.
Hal ini berawal ketika aku terjebak dalam bayang-bayang ilusi seseorang, terperangkap dalam jutaan imajinasi fiktf seluas samudera, dan tertinggal didalam sebuah lorong kenyamanan semu yang membius.
Sore itu, aku merenung dalam sudut sebuah kotak merah muda ditemani rintik-rintik suara hujan. Aku terdiam, duduk menatap hujan sambil memeluk kakiku sendiri. Hujanpun seolah tak sudi melihat butiran air yang nampaknya hendak menyaingi derasnya ia turun. Aku masih terdiam, hanya memandangi keramik putih yang tidak berdosa itu. Hujan membuatku teringat kepada seseorang, memang ia tak pernah gagal dalam hal itu. Dan, ia menang.
Aku tahu, aku tak pernah melihatnya secara nyata. Aku tahu, aku belum pernah menyentuh wajahnya. Akupun tahu, aku juga belum pernah melihat senyum indahnya. Ya, aku tahu semua itu. Tapi jangan salahkan aku dengan hal ini, kumohon.. Hal apa? suatu hal yang membuat aku menjadi bodoh seperti sekarang ini.
Dia datang..... seperti angin bertiup dipantai. Aku memang tak dapat melihatya, tapi aku dapat merasakannya. Sebuah angin besar bertiup kencang yang sudah membuatku jatuh, jatuh kepadanya. Jatuh terpungkur kedalam jurang curam dalam sehingga sulit bagiku untuk keluar. Aku tidak tahu apakah aku mengerti tentang apa yang aku bicarakan, tapi setidaknya begitulah yang aku rasakan.
Aku merasakannya. Ya, aku merasakannya! Oh Tuhan, apa yang sesungguhnya terjadi kepadaku? Aku selalu menghabiskan waktu untuk memikirkannya. Aku kerahkankan seluruh kekuatanku untuk bertahan padanya. Aku habiskan seluruh kesabaranku demi hubungan kami. Aku.... bahkan telah membuat muara di bola mataku kering sehingga airnya tidak bisa menetes lagi. Aku melakukan semuanya untuknya. Hanya dia.
Hingga suatu saat aku sadar betapa bodohnya caraku menyayanginya. Hey! Bangun! Tidakkah kau lihat dia bagaikan seorang raja? Dia kelilingi banyak wanita cantik, yang tentu saja lebih cantik darimu. Apa yang kau pikirkan, hah? Kau ingin membuatnya menjadi milikmu? Kau ingin menyaingi wanita-wanita cantik itu? Punya apa kau? Bodoh! Kau benar-benar wanita bodoh! Tak tahu diri! Apakah kau tak punya kaca dirumah, begitu? Lihat siapa dirimu! Lihat baik-baik! Kaca tak pernah berbohong kepada siapapun.
Maafkan aku, aku tak menepati janji untuk tidak menangis kecuali dipundakmu. Maafkan aku tidak menepati janji untuk selalu tersenyum karena itu yang membuatmu bahagia. Maafkan aku tidak menepati janji untuk tidak merendahkan diri sendiri karena itu membuatmu marah. Dan maaf.... aku telah cemburu meski aku hanya sebuah butiran pasir yang tidak berguna untukmu. Aku sudah diluar batas, keterlaluan. Aku hanya bayang ilusi bagimu, bukan sebuah bentuk nyata yang berhak medapatkan itu. Maafkan aku untuk semuanya.
Jangan khawatir, aku akan berusaha untuk tetap berada disampingmu. Kita tidak tahu masa depan bukan? Aku hanya menganggap ini sebuah pijakan untuk menjadi dewasa. Pijakan untukku.. yang tak lama lagi akan memasuki usia kepala dua. Aku tidak berharap apapun darimu, sungguh. Aku hanya berharap, jadilah yang terbaik bagi dirimu sendiri. Suatu saat jika kau butuh tempat kembali, aku ada disini untuk memelukmu dalam ketenangan, dalam kesejukan, dan dalam kesetiaan.
Terimakasih untuk semuanya :)
sudut kotak merah muda, 13 Juni 2013.
terimakasih untuk inspirasi cerita indah ini, R :)