Selasa, 18 Desember 2012

Dreams, You, Him and I #2

Diposting oleh Indra Ayu Fatmala di 09.03 0 komentar

....

Lelaki tinggi itu tersenyum manis "Masih ingat denganku?"
"Devon!!" Teriakan Rania menggelegar, ia langsung menghambur dipelukan Devon.
"Apa kabar kamu?" Devon membalas pelukan Rania dengan mengelus rambut hitamnya
Rania melepaskan pelukannya. Hampir terharu dengan hal ini. "Baik, Von. Kenapa kau bisa berada disini?"
"Justru aku yang seharusnya tanya begitu.." Devon duduk di kursi yang tadi dipakai Rania
Rania mengangkat bahu "Ini kampusku. Memangnya salah aku datang kesini?"
"Benarkah?" Mata Devon cerah "Bagaimana bisa kita satu kampus begini?"

Jadilah Rania bercakap dengan Devon. Oh iya kalian belum tahu siapa Devon? Devon itu teman dekat Rania ketika masih duduk dibangku sekolah dasar. mereka memang sangat akrab sampai akhirnya Devon harus mengikuti orangtuanya pindah ke Kalimantan sehingga mereka sempat putus kontak. Thanks to Facebook. Sekolah dasar Rania memang termasuk sekolah yang mengikuti perkembangan jaman sehingga mereka bisa mengumpulkan berbagai alumnus dari segala penjuru Indonesia bahkan dunia. Dan disitulah, Rania dan Devon kembali dipertemukan.

***

"Yang benar saja? Dia satu kampus dengan kakak?" Teriak Geo masih tidak percaya.
"Beneran, Ge. Kakak enggak bercanda, buat apa juga kakak bohong?"
"Kayaknya, dia emang sengaja ngikutin kakak deh.."
Rania mengerutkan kening "Kok bisa gitu?"
Geo mengangkat pundak "Entah, rasa-rasa aja.."
Rania memang beruntung punya adik seperti Geovanni -tapi lebih sering ia panggil Geo- yang memiliki sifat cukup dewasa sehingga setiap masalah yang dimiliki Rania, dia bisa bercerita pada Geo dan meminta saran dari pandangan seorang lelaki.
"Karena, mana mungkin dia rela kuliah di Jogja dan jauh dari orangtuanya kalo dia aja nyaman di Kalimantan.." Geo menyeruput Sodanya "Mengerti maksud Geo, kak?"
Rania mengangguk "Tapi kakak rasa ini cuma... kebetulan. Ya, kebetulan!" Rania berdiri dari sofa dan mondar-mandir seperti seterika berjalan "Geo, coba kamu pikir. Jogja memang kota pelajar dan siapapun akan berbondong untuk kuliag disini. Masalah dia jauh dari orangtuanya, dia kan cowok. Memangnya tidak boleh belajar mandiri?"
Geo hanya memberikan senyum khasnya -yang baru disadari Rania ternyata sangat manis- "Kita tunggu saja cerita berikutnya, kak.."
".............."

***

Kampus sudah sepi pada jam pulang kantor seperti ini. Riko masih sibuk dengan ritualnya mengerjakan tugas diselasar kampus sembari mendengarkan lagu. Ya, lumayan untuk menjadi moodbooster, pikirnya. Entah sore ini terasa berbeda dari biasanya, pikirannya melayang jauh dan jauh dibawah angin.

"Maura, tolong jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini..." Riko memohon.
Air mata masih jatuh bergelinang di pipi Maura "Kenapa? Memangnya kenapa kalo aku seperti ini? Apa pedulimu, hah?"
"Maura, aku mohon dengarkan aku.." Riko sudah berusaha menggenggam tangan Maura, tapi gagal. Emosi memberi kekuatan pada Maura untuk melepas genggaman Riko.
"Pergi kau, Brengsek! Aku tak ingin melihat wajahmu!"
"Maura, dengarkan aku! Ini hanya salah paham.."
"Apa menurutmu dengan semua bukti ini hanya salah paham, hah?"
Maura menghamburkan semua foto-foto yang menyulut emosinya. Riko mengepal tangannya, berharap ia tidak akan lebih emosi dari ini. Hening.
Tangis Maura semakin menjadi. "Riko, dengarkan aku. Pernah kau merasakan betapa sakitnya seorang wanita yang menerima foto seperti itu? Pernah?"
"Maura, itu tidak..."
"Omong kosong!" Maura menjerit sejadinya "Kau memang brengsek, Riko. Jangan pernah temui aku barang sekalipun!" Maura mengambil tas dan beranjak dari tempat duduknya. "Oh iya satu lagi, mulai sekarang hubungan kita berakhir!" Maura segera berlari secepat mungkin.
"Maura! Maura!" Riko yang tidak berhasil mengejar Maura akhirnya melimpahkan emosinya dengan menonjok tembok rumahnya. Sekali, dua kali, berkali-kali hingga tangannya biru lebam disertai darah segar yang menetes sedikit demi sedikit. Pikirannya melayang, teringat akan seseorang.
"Rania... Maafkan aku.."

"Permisi.."
Suara itu menghamburkan lamunan Riko "Ya?"
"Boleh aku duduk disini? Sepertinya tidak ada orang lain di selasar, hehe."
Riko tersenyum "Kau mahasiswa baru? Duduklah.."
"Terimakasih. Mari berkenalan.."
Riko menjukurkan tangan "Riko, Fakultas Teknik Sipil.."
Lelaki itu membalas tersenyum "Devon, Fakultas Hubungan Internasional."
"Hai, salam kenal Devon." Riko menjabat tangan Devon dengan Ramah, seperti biasanya.
Akhirnya mereka berdua terjebak dalam obrolan pria yang dianggap Riko cukup menyenangkan. Mereka ternyata memiliki hobby yang sama pada bidang otomotif. Karena terlalu bersemangat bertukar info, Riko tidak sengaja menjatuhkan notes kampusnya. Diluar dugaan, ia masih menyimpan foto Rania di notesnya itu. Apalah daya? Devon telah menangkap basah kejadian itu.
Devon mengambil foto Rania dan mengerutkan kening "Kau mengenal Rania?"

-To Be Continued-
-AF-


Minggu, 16 Desember 2012

Dreams, You, Him and I #1

Diposting oleh Indra Ayu Fatmala di 10.44 0 komentar
"dan semuanya berakhir sampai disini. Mereka hidup bahagia dan mengucapkan janji setia. Live happily ever after."

Rania menghela nafas lega. Akhirnya, tulisannya yang kedelapan baru saja selesai, ia bahkan sudah tidak sabar mengirimkannya pada redaksi. Rania memang selalu sibuk dengan PC kesayangannya semenjak menjadi penulis di redaksi majalah kampus. Bidangnya? Jangan ditanya, tentu saja membuat fiksi. Memang hobi itu bukan hal baru bagi Rania.

Jam dinding kamar Rania menunjukkan pukul tiga dini hari. Setelah menghela nafas panjang, ia mencoba berbaring dikasur kesayangannya. Memang dia kekurangan tidur saat ini. Kelas pertama dimulai pukul tujuh. "Cukuplah aku berbaring sebentar.."

***

"Maaf, aku tidak bisa membawamu pergi.."
"Kenapa? Apa yang kau tunggu?"
"Waktu yang tepat. Tunggulah waktu yang tepat.."
"Kapan itu?"
Ia hanya tersenyum manis kepada Rania. "Pergilah Rania, aku akan menjagamu.."
"Tapi, aku hanya ingin bersamamu. Siapa kau?"
"Suatu saat kau akan tahu.."
"Tunggu... Hey! Tunggu.."

***

"Baiklah sekian rapat hari ini, kalian bisa kembali pulang." Pimpinan Redaksi majalah kampus menutup rapat rutin mingguan. Pengurus Redaksi mulai meninggalkan ruangan rapat, hingga tersisa ia dan Rosa. Setelah selesai dengan beberapa berkas yang sudah di tanda tangani, Rania segera bangkit dan berniat meninggalkan ruangan rapat.
"Rosa, kau ada kuliah?"
Rosa yang masih sibuk dengan laptopnya menengadah "Tidak.." Sejenak ia melirik jam tangan hijau yang melingkar manis dipergelangan tangannya "Aku kuliah jam dua.."
Rania mengangkat bahu "Kau berminat ke kafetaria?"
"Tentu saja jika..." Rosa memotong kalimatnya
"Kau dapatkan Hot Cappucino dariku.."

Dengan senyum penuh kemenangan, akhirnya Rania berhasil membawa Rosa ke kafetaria. Rosa tidak tahu saja apa yang akan Rania bicarakan padanya. Setelah memesan Hot Cappucino dan Soft Pure Milk, Rania dan Rosa duduk diujung kafetaria. Tempat favorit Rania, tentu saja.

"Rosa, bolehkah aku bertanya padamu?"
"Mau bertanya apa?"
Pesanan datang "Terimakasih.." ucap Rosa perlahan
"Tentang...."
"Apa? Kau dihantui mimpi itu lagi?"
"Aku sudah mengalaminya selama tiga hari berturut-turut, Ros."
"Rania dengarkan aku.." Rosa menatap Rania dengan penuh keseriusan "Aku sudah bilang kan padamu? aku memang bisa mengerti dan aku tahu apa maksud dari mimpimu."
"Lalu?"
"Tolong, jangan memotong atau aku akan berhenti."
Rania terdiam, memilih mengalah.
"Aku memang tidak tahu siapa orang dimimpimu itu. aku tidak tahu dengan jelas dimana ia bertemu denganmu.." Rosa menyeduh Cappucinonya "Tapi aku tahu, dia tak akan meyakitimu. dia hanya ingin membantumu.."
"Membantu dalam hal apa?"
"Entah..." Rosa memainkan sendok. "Aku tahu dia orang yang baik, kau tidak perlu khawatir."
Rania mengehla nafas "Ia benar-benar membuatku hampir mati penasaran."
"Bagaimana kabar Riko?" tanya Rosa mengalihkan pembicaraan
Rania mendelik kaget "Ada apa kau menanyakannya?"
"Aku dengar dia menjalin hubungan dengan adik tingkatnya. Mahasiswi Baru Fakultas Teknik.."
"Apa peduliku?" senyum sinis tersinggung dr bibir Rania.
"Kau tidak cemburu?" tatapan menyelidik Rosa mulai tampak
"Aku tidak peduli padanya.."
Emosi yang menyulut Rania membuatnya enggan untuk berada lama dengan Rosa, sahabatnya. Ia memang yang paling mengerti Rania tapi terkadang Rosa juga bisa sangat menyebalkan. Setelah mengangkat tas dan membawa beberapa literatur, Rania memilih pergi.
"Rosa, aku harus masuk kelas."
"Baiklah. Terimakasih untuk ini.."
"Tidak masalah."

Sembari membetulkan kacamatanya, Rania berjalan dengan rambut terhembus angin menuju kelas. Cantik sekali. Siapapun lelaki normal yang melihatnya pasti akan mengakui kecantikan dara sembilan belas tahun ini. Rania tahu, kelas masih akan dimulai lima belas menit lagi dan ia memutuskan untuk membaca buku literatur yang sudah ia pinjam dari perpustakaan. Membaca dapat menenangkan hati gundahnya.

"Rania?"
Rania menengadah dari bukunya dan terkaget melihat siapa yang ada didepan matanya.
"Kamu benar Rania Chantika?"
"Loh kamu...."

-To Be Continued-

-AF-


Selasa, 18 Desember 2012

Dreams, You, Him and I #2


....

Lelaki tinggi itu tersenyum manis "Masih ingat denganku?"
"Devon!!" Teriakan Rania menggelegar, ia langsung menghambur dipelukan Devon.
"Apa kabar kamu?" Devon membalas pelukan Rania dengan mengelus rambut hitamnya
Rania melepaskan pelukannya. Hampir terharu dengan hal ini. "Baik, Von. Kenapa kau bisa berada disini?"
"Justru aku yang seharusnya tanya begitu.." Devon duduk di kursi yang tadi dipakai Rania
Rania mengangkat bahu "Ini kampusku. Memangnya salah aku datang kesini?"
"Benarkah?" Mata Devon cerah "Bagaimana bisa kita satu kampus begini?"

Jadilah Rania bercakap dengan Devon. Oh iya kalian belum tahu siapa Devon? Devon itu teman dekat Rania ketika masih duduk dibangku sekolah dasar. mereka memang sangat akrab sampai akhirnya Devon harus mengikuti orangtuanya pindah ke Kalimantan sehingga mereka sempat putus kontak. Thanks to Facebook. Sekolah dasar Rania memang termasuk sekolah yang mengikuti perkembangan jaman sehingga mereka bisa mengumpulkan berbagai alumnus dari segala penjuru Indonesia bahkan dunia. Dan disitulah, Rania dan Devon kembali dipertemukan.

***

"Yang benar saja? Dia satu kampus dengan kakak?" Teriak Geo masih tidak percaya.
"Beneran, Ge. Kakak enggak bercanda, buat apa juga kakak bohong?"
"Kayaknya, dia emang sengaja ngikutin kakak deh.."
Rania mengerutkan kening "Kok bisa gitu?"
Geo mengangkat pundak "Entah, rasa-rasa aja.."
Rania memang beruntung punya adik seperti Geovanni -tapi lebih sering ia panggil Geo- yang memiliki sifat cukup dewasa sehingga setiap masalah yang dimiliki Rania, dia bisa bercerita pada Geo dan meminta saran dari pandangan seorang lelaki.
"Karena, mana mungkin dia rela kuliah di Jogja dan jauh dari orangtuanya kalo dia aja nyaman di Kalimantan.." Geo menyeruput Sodanya "Mengerti maksud Geo, kak?"
Rania mengangguk "Tapi kakak rasa ini cuma... kebetulan. Ya, kebetulan!" Rania berdiri dari sofa dan mondar-mandir seperti seterika berjalan "Geo, coba kamu pikir. Jogja memang kota pelajar dan siapapun akan berbondong untuk kuliag disini. Masalah dia jauh dari orangtuanya, dia kan cowok. Memangnya tidak boleh belajar mandiri?"
Geo hanya memberikan senyum khasnya -yang baru disadari Rania ternyata sangat manis- "Kita tunggu saja cerita berikutnya, kak.."
".............."

***

Kampus sudah sepi pada jam pulang kantor seperti ini. Riko masih sibuk dengan ritualnya mengerjakan tugas diselasar kampus sembari mendengarkan lagu. Ya, lumayan untuk menjadi moodbooster, pikirnya. Entah sore ini terasa berbeda dari biasanya, pikirannya melayang jauh dan jauh dibawah angin.

"Maura, tolong jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini..." Riko memohon.
Air mata masih jatuh bergelinang di pipi Maura "Kenapa? Memangnya kenapa kalo aku seperti ini? Apa pedulimu, hah?"
"Maura, aku mohon dengarkan aku.." Riko sudah berusaha menggenggam tangan Maura, tapi gagal. Emosi memberi kekuatan pada Maura untuk melepas genggaman Riko.
"Pergi kau, Brengsek! Aku tak ingin melihat wajahmu!"
"Maura, dengarkan aku! Ini hanya salah paham.."
"Apa menurutmu dengan semua bukti ini hanya salah paham, hah?"
Maura menghamburkan semua foto-foto yang menyulut emosinya. Riko mengepal tangannya, berharap ia tidak akan lebih emosi dari ini. Hening.
Tangis Maura semakin menjadi. "Riko, dengarkan aku. Pernah kau merasakan betapa sakitnya seorang wanita yang menerima foto seperti itu? Pernah?"
"Maura, itu tidak..."
"Omong kosong!" Maura menjerit sejadinya "Kau memang brengsek, Riko. Jangan pernah temui aku barang sekalipun!" Maura mengambil tas dan beranjak dari tempat duduknya. "Oh iya satu lagi, mulai sekarang hubungan kita berakhir!" Maura segera berlari secepat mungkin.
"Maura! Maura!" Riko yang tidak berhasil mengejar Maura akhirnya melimpahkan emosinya dengan menonjok tembok rumahnya. Sekali, dua kali, berkali-kali hingga tangannya biru lebam disertai darah segar yang menetes sedikit demi sedikit. Pikirannya melayang, teringat akan seseorang.
"Rania... Maafkan aku.."

"Permisi.."
Suara itu menghamburkan lamunan Riko "Ya?"
"Boleh aku duduk disini? Sepertinya tidak ada orang lain di selasar, hehe."
Riko tersenyum "Kau mahasiswa baru? Duduklah.."
"Terimakasih. Mari berkenalan.."
Riko menjukurkan tangan "Riko, Fakultas Teknik Sipil.."
Lelaki itu membalas tersenyum "Devon, Fakultas Hubungan Internasional."
"Hai, salam kenal Devon." Riko menjabat tangan Devon dengan Ramah, seperti biasanya.
Akhirnya mereka berdua terjebak dalam obrolan pria yang dianggap Riko cukup menyenangkan. Mereka ternyata memiliki hobby yang sama pada bidang otomotif. Karena terlalu bersemangat bertukar info, Riko tidak sengaja menjatuhkan notes kampusnya. Diluar dugaan, ia masih menyimpan foto Rania di notesnya itu. Apalah daya? Devon telah menangkap basah kejadian itu.
Devon mengambil foto Rania dan mengerutkan kening "Kau mengenal Rania?"

-To Be Continued-
-AF-


Minggu, 16 Desember 2012

Dreams, You, Him and I #1

"dan semuanya berakhir sampai disini. Mereka hidup bahagia dan mengucapkan janji setia. Live happily ever after."

Rania menghela nafas lega. Akhirnya, tulisannya yang kedelapan baru saja selesai, ia bahkan sudah tidak sabar mengirimkannya pada redaksi. Rania memang selalu sibuk dengan PC kesayangannya semenjak menjadi penulis di redaksi majalah kampus. Bidangnya? Jangan ditanya, tentu saja membuat fiksi. Memang hobi itu bukan hal baru bagi Rania.

Jam dinding kamar Rania menunjukkan pukul tiga dini hari. Setelah menghela nafas panjang, ia mencoba berbaring dikasur kesayangannya. Memang dia kekurangan tidur saat ini. Kelas pertama dimulai pukul tujuh. "Cukuplah aku berbaring sebentar.."

***

"Maaf, aku tidak bisa membawamu pergi.."
"Kenapa? Apa yang kau tunggu?"
"Waktu yang tepat. Tunggulah waktu yang tepat.."
"Kapan itu?"
Ia hanya tersenyum manis kepada Rania. "Pergilah Rania, aku akan menjagamu.."
"Tapi, aku hanya ingin bersamamu. Siapa kau?"
"Suatu saat kau akan tahu.."
"Tunggu... Hey! Tunggu.."

***

"Baiklah sekian rapat hari ini, kalian bisa kembali pulang." Pimpinan Redaksi majalah kampus menutup rapat rutin mingguan. Pengurus Redaksi mulai meninggalkan ruangan rapat, hingga tersisa ia dan Rosa. Setelah selesai dengan beberapa berkas yang sudah di tanda tangani, Rania segera bangkit dan berniat meninggalkan ruangan rapat.
"Rosa, kau ada kuliah?"
Rosa yang masih sibuk dengan laptopnya menengadah "Tidak.." Sejenak ia melirik jam tangan hijau yang melingkar manis dipergelangan tangannya "Aku kuliah jam dua.."
Rania mengangkat bahu "Kau berminat ke kafetaria?"
"Tentu saja jika..." Rosa memotong kalimatnya
"Kau dapatkan Hot Cappucino dariku.."

Dengan senyum penuh kemenangan, akhirnya Rania berhasil membawa Rosa ke kafetaria. Rosa tidak tahu saja apa yang akan Rania bicarakan padanya. Setelah memesan Hot Cappucino dan Soft Pure Milk, Rania dan Rosa duduk diujung kafetaria. Tempat favorit Rania, tentu saja.

"Rosa, bolehkah aku bertanya padamu?"
"Mau bertanya apa?"
Pesanan datang "Terimakasih.." ucap Rosa perlahan
"Tentang...."
"Apa? Kau dihantui mimpi itu lagi?"
"Aku sudah mengalaminya selama tiga hari berturut-turut, Ros."
"Rania dengarkan aku.." Rosa menatap Rania dengan penuh keseriusan "Aku sudah bilang kan padamu? aku memang bisa mengerti dan aku tahu apa maksud dari mimpimu."
"Lalu?"
"Tolong, jangan memotong atau aku akan berhenti."
Rania terdiam, memilih mengalah.
"Aku memang tidak tahu siapa orang dimimpimu itu. aku tidak tahu dengan jelas dimana ia bertemu denganmu.." Rosa menyeduh Cappucinonya "Tapi aku tahu, dia tak akan meyakitimu. dia hanya ingin membantumu.."
"Membantu dalam hal apa?"
"Entah..." Rosa memainkan sendok. "Aku tahu dia orang yang baik, kau tidak perlu khawatir."
Rania mengehla nafas "Ia benar-benar membuatku hampir mati penasaran."
"Bagaimana kabar Riko?" tanya Rosa mengalihkan pembicaraan
Rania mendelik kaget "Ada apa kau menanyakannya?"
"Aku dengar dia menjalin hubungan dengan adik tingkatnya. Mahasiswi Baru Fakultas Teknik.."
"Apa peduliku?" senyum sinis tersinggung dr bibir Rania.
"Kau tidak cemburu?" tatapan menyelidik Rosa mulai tampak
"Aku tidak peduli padanya.."
Emosi yang menyulut Rania membuatnya enggan untuk berada lama dengan Rosa, sahabatnya. Ia memang yang paling mengerti Rania tapi terkadang Rosa juga bisa sangat menyebalkan. Setelah mengangkat tas dan membawa beberapa literatur, Rania memilih pergi.
"Rosa, aku harus masuk kelas."
"Baiklah. Terimakasih untuk ini.."
"Tidak masalah."

Sembari membetulkan kacamatanya, Rania berjalan dengan rambut terhembus angin menuju kelas. Cantik sekali. Siapapun lelaki normal yang melihatnya pasti akan mengakui kecantikan dara sembilan belas tahun ini. Rania tahu, kelas masih akan dimulai lima belas menit lagi dan ia memutuskan untuk membaca buku literatur yang sudah ia pinjam dari perpustakaan. Membaca dapat menenangkan hati gundahnya.

"Rania?"
Rania menengadah dari bukunya dan terkaget melihat siapa yang ada didepan matanya.
"Kamu benar Rania Chantika?"
"Loh kamu...."

-To Be Continued-

-AF-


 

LOVEPUCCINO ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea

Happy Cat Kaoani