Rania menghela nafas lega. Akhirnya, tulisannya yang kedelapan baru saja selesai, ia bahkan sudah tidak sabar mengirimkannya pada redaksi. Rania memang selalu sibuk dengan PC kesayangannya semenjak menjadi penulis di redaksi majalah kampus. Bidangnya? Jangan ditanya, tentu saja membuat fiksi. Memang hobi itu bukan hal baru bagi Rania.
Jam dinding kamar Rania menunjukkan pukul tiga dini hari. Setelah menghela nafas panjang, ia mencoba berbaring dikasur kesayangannya. Memang dia kekurangan tidur saat ini. Kelas pertama dimulai pukul tujuh. "Cukuplah aku berbaring sebentar.."
***
"Maaf, aku tidak bisa membawamu pergi.."
"Kenapa? Apa yang kau tunggu?"
"Waktu yang tepat. Tunggulah waktu yang tepat.."
"Kapan itu?"
Ia hanya tersenyum manis kepada Rania. "Pergilah Rania, aku akan menjagamu.."
"Tapi, aku hanya ingin bersamamu. Siapa kau?"
"Suatu saat kau akan tahu.."
"Tunggu... Hey! Tunggu.."
***
"Baiklah sekian rapat hari ini, kalian bisa kembali pulang." Pimpinan Redaksi majalah kampus menutup rapat rutin mingguan. Pengurus Redaksi mulai meninggalkan ruangan rapat, hingga tersisa ia dan Rosa. Setelah selesai dengan beberapa berkas yang sudah di tanda tangani, Rania segera bangkit dan berniat meninggalkan ruangan rapat.
"Rosa, kau ada kuliah?"
Rosa yang masih sibuk dengan laptopnya menengadah "Tidak.." Sejenak ia melirik jam tangan hijau yang melingkar manis dipergelangan tangannya "Aku kuliah jam dua.."
Rania mengangkat bahu "Kau berminat ke kafetaria?"
"Tentu saja jika..." Rosa memotong kalimatnya
"Kau dapatkan Hot Cappucino dariku.."
Dengan senyum penuh kemenangan, akhirnya Rania berhasil membawa Rosa ke kafetaria. Rosa tidak tahu saja apa yang akan Rania bicarakan padanya. Setelah memesan Hot Cappucino dan Soft Pure Milk, Rania dan Rosa duduk diujung kafetaria. Tempat favorit Rania, tentu saja.
"Rosa, bolehkah aku bertanya padamu?"
"Mau bertanya apa?"
Pesanan datang "Terimakasih.." ucap Rosa perlahan
"Tentang...."
"Apa? Kau dihantui mimpi itu lagi?"
"Aku sudah mengalaminya selama tiga hari berturut-turut, Ros."
"Rania dengarkan aku.." Rosa menatap Rania dengan penuh keseriusan "Aku sudah bilang kan padamu? aku memang bisa mengerti dan aku tahu apa maksud dari mimpimu."
"Lalu?"
"Tolong, jangan memotong atau aku akan berhenti."
Rania terdiam, memilih mengalah.
"Aku memang tidak tahu siapa orang dimimpimu itu. aku tidak tahu dengan jelas dimana ia bertemu denganmu.." Rosa menyeduh Cappucinonya "Tapi aku tahu, dia tak akan meyakitimu. dia hanya ingin membantumu.."
"Membantu dalam hal apa?"
"Entah..." Rosa memainkan sendok. "Aku tahu dia orang yang baik, kau tidak perlu khawatir."
Rania mengehla nafas "Ia benar-benar membuatku hampir mati penasaran."
"Bagaimana kabar Riko?" tanya Rosa mengalihkan pembicaraan
Rania mendelik kaget "Ada apa kau menanyakannya?"
"Aku dengar dia menjalin hubungan dengan adik tingkatnya. Mahasiswi Baru Fakultas Teknik.."
"Apa peduliku?" senyum sinis tersinggung dr bibir Rania.
"Kau tidak cemburu?" tatapan menyelidik Rosa mulai tampak
"Aku tidak peduli padanya.."
Emosi yang menyulut Rania membuatnya enggan untuk berada lama dengan Rosa, sahabatnya. Ia memang yang paling mengerti Rania tapi terkadang Rosa juga bisa sangat menyebalkan. Setelah mengangkat tas dan membawa beberapa literatur, Rania memilih pergi.
"Rosa, aku harus masuk kelas."
"Baiklah. Terimakasih untuk ini.."
"Tidak masalah."
Sembari membetulkan kacamatanya, Rania berjalan dengan rambut terhembus angin menuju kelas. Cantik sekali. Siapapun lelaki normal yang melihatnya pasti akan mengakui kecantikan dara sembilan belas tahun ini. Rania tahu, kelas masih akan dimulai lima belas menit lagi dan ia memutuskan untuk membaca buku literatur yang sudah ia pinjam dari perpustakaan. Membaca dapat menenangkan hati gundahnya.
"Rania?"
Rania menengadah dari bukunya dan terkaget melihat siapa yang ada didepan matanya.
"Kamu benar Rania Chantika?"
"Loh kamu...."
-To Be Continued-
-AF-
0 komentar:
Posting Komentar