aku sering nanyain itu sama orangtuaku, terutama Papa. banyak sekali pertanyaan yang dijawab Papa dengan "Besok aja waktu Kuliah.." dan aku penasaran, kenapa harus selalu dijawab kayak gitu?
well, akhirnya aku mulai sedikit mengerti tentang itu semenjak percakapan beberapa hari yang lalu.
aku masih tengkurep didepan TV sambil menyalin catetan fisika yang belum sempat terselesaikan. Bimar dan Mama udah tidur sedangkan Papa masih nemenin aku sambil nonton politik (seperti biasa). sebenarnya nggak ada motivasi khusus aku masih melek semalam itu, aku cuma nungguin SMTown, hehe. Papa seperti biasa menonton dengan anteng dan mencermati, sesekali mengomentari kalo pendapat ada yang tidak cocok dengan prinsip beliau. kadang ketika iklan, Papa ngomelin aku karena nggak pakai kacamata, nggak lama ya sekedarnya aja.
setelah catetanku selesai dan kebetulan SMTown sudah mulai, Papa mau ngalah dan ngizinin aku nonton. padahal aku bisa nonton di TV belakang, tapi nggak dibolehin sama Papa. yaudah akhirnya aku dan Papa nonton bareng. Papa paling sering mengometari penampilan Boyband ketimbang Girlband yang menurut beliau terlalu "ngondek" ._.v
terus nggak tahu kenapa, waktu SNSD tampil aku nyeplos bilang "Enak kali ya punya badan kayak mereka, udah langsing putih lagi.."
Papa langsung nanggepin "Kok ngomongnya gitu?"
Aku kaget, nggak sasar habis nyeplos apa "Emm, ya bener kan pa?"
nah, disinilah percakapanku sama Papa dimulai. Papa marah, emm bukan lebih tepatnya jengkel. beliau nggak suka anaknya mungkar nikmat sama Allah. Papa sering bilang kalau aku ini sebenarnya manis, hanya saja ketutupan dengan fisikku yang gemuk kayak gini (iyalah mana ada orangtua yang mau menjelekkan anaknya, pikirku). Seolah bisa membaca pikiranku, Papa langsung mengutarakan kenapa beliau bilang begitu. banyak teman Papa yang bilang seperti itu katanya. ya aku sih diem saja.
tiba-tiba aku teringat dengan seseorang, terus aku cerita sama Papa, "Tapi Pa, aku punya temen cowok. dia suka sama cewek putih. bahkan saking butanya dia suka sama cewek putih, dia pernah naksir cewek yang 'sedikit aneh' tanpa menganalisis pribadinya. eh, begitu tahu dia langsung ilfeel. nah gimana tuh, Pa? kalo semua cowok kayak gitu, nggak ada yang mau dong sama aku?"
Papa cuma senyum, "Naksir mba sama cowok itu?"
*JLEB* aku cuma bisa diem. emang bener kata orang, paling susah bohong sama orang tua.
Papa ketawa sekarang sambil ngelus kepalaku "Gini ya mba, inget Oom Ambar?" aku mengangguk
"Tau nggak kalo Oom Ambar dulu bintang kampus?"
"Wooo, yang bener? tapi iya sih Pa, kelihatan gantengnya.. *terbayang Pak Dwi*"
"Nah, Oom Ambar dulu pacarnya cantik-cantik banget. Papa inget hampir setiap berapa bulan sekali ganti pacar dari fakultas yang beda-beda. mulai dari yang cantik tapi judes sampe yang jelek tapi kaya. macem-macemlah. Kalo ikut istilah jaman sekarang ya... Playboy."
"Terus?"
"Kalau Playboy, pasti akan menilai cewek itu dari sekilas kan? kenapa Oom Ambar bisa bilang mba manis, tapi temen-temen sekolah mba gak ada yang bilang?"
*geleng kepala* "Nggak tahu, emang kenapa?"
"Anak SMA itu masih idealis mba. kalo dari sisi seorang cowok, siapa sih yang nggak pengen punya cewek sesuai kriterianya? mereka pasti memperjuangkan apa yang mereka inginkan. seperti Papa dulu, tipe Papa ya yang Mancung, hitam manis, rambutnya lurus panjang. Papa pernah merasakan jadi anak SMA, mba."
"Terus gimana kok Papa bisa dapetnya kayak Mama gitu?"
"Nah, sampai pada suatu titik cowok akan kehilangan sisi idealisnya itu mba. mereka akan mulai melupakan penampilan fisik, disisi lain mungkin saja mereka lelah mencari pacar cuma buat 'pantes diajak jalan' aja. suatu saat nanti mereka akan melupakan hal itu dan akan mencari sesuatu yang jauh lebih mereka butuhkan dari sekedar fisik yaitu kenyamanan dan obyektifitas."
*makin tertarik mendengar*
"Nah itu kenapa Oom Ambar bisa bilang mba itu manis dari awal ketemu. karena Oom Ambar sudah melewati masa itu mba. Oom Ambar lihatnya benar-benar dari sisi pria buka remaja."
"Papa nggak cuma nyenengin aku kan?"
"Loh, kok nyengengin? Papa ngomong beneran ini. makanya kenapa di masa sekolah Papa nggak pengen mba Ayu pacaran dulu? ya ini mba... anak SMA masih terlalu idealis, sedangkan yang sudah memasuki tahap universitas, masuk ke umur kepala dua. mereka akan lebih mengerti apa yang Papa omongin."
"Oh, jadi anak kuliahan itu sebenarnya obyektif?"
"Iya, anak kuliahan jarang sekali mencari cewek cuma buat diajak main-main. mereka sudah berani mulai berpikir serius."
*ngangguk-ngangguk*
"Jadi, Papa pengen itu semua nggak usah dipikirin. mba gemuk ya biarin aja gemuk, memang kenapa? yang penting mba itu pede, ramah sama cowok, jangan nyenthe, jangan suka marahin apalagi bentakin cowok. cowok nggak suka digituin. Percaya deh sama Papa, hidup ini dijalanin aja.. Mba Ayu orang baik, dari keluarga yang insyaAllah baik juga. jadi Papa yakin besok menantu Papa pasti baik dan juga sukses.."
"Amin... mau satu lagi!!"
"Apa?"
"Dapet bonusnya Ganteng dong.. *ketawa*"
"Ya Amin, seganteng Bikun.."
"NICHKHUN!!! bukan Bikun -_____-"
*ketawa*
Disitulah akhir percakapan kita, setelah ngobrol sedikit basa-basi aku sadar kalo omongan Papa bener banget. aku segera balik kamar, udah mbrebes mili nggak tahan pengen nangis. akhirnya mulai sekarang aku mau memantapkan hati buat menjalankan masa SMA ini senyaman mungkin selama aku bisa. masalah cinta? let it flow ;)
0 komentar:
Posting Komentar