Jumat, 12 Juli 2013

kejujuran yang terbisu.

Diposting oleh Indra Ayu Fatmala di 10.37
Ketika itu aku masih terdiam memandangi langit kamarku. Pikiranku terbagi-bagi oleh banyak hal, terlampau banyak. Aku tidak mengerti apa yang ada didalam pikiranku saat ini, jika diibaratkan sebuah paragraf semua pikiran-pikiran itu seolah menjadi anak kalimat yg akan mengaju ke sebuah induk kalimat. Iya, induk kalimat itu hanya sebuah kata, kamu.

Baiklah aku tidak mengerti harus memulainya darimana, tapi kuharap kalian bisa memahami apa yang aku maksud. Ini ada sepotong cerita pagi saat matahari belum terbit. Waktu dimana matahari belum terbit adalah saat terbaik bagiku untuk merenung. Ya, merenung. Saat itu aku sedang menikmati sensasi bergelut dengan hati dan pikiranku. Luar biasa! Lebih dari segala apapun. Entah, aku rasa kalian sudah pernah merasakannya -hanya mungkin kalian tidak menyadarinya.

Esok itu, aku mendengar hati kecil ku menangis. Tangisannya lebih menyeramkan daripada tangisan orang histeris. Aku mendekati hati kecil itu. Kasihan sekali dia, banyak sekali luka didekitar tubuhnya. Ah, tidak apa ini hanyalah luka kecil, katanya. Aku selalu berpikir, luka kecil bagaimana? Lihat saja dirinya! Kakinya rapuh, tangannya tergores, badannya seperti tersabit pedang, matanya sudah membengkak lebih besar dari buah anggur. Hati itu tersenyum, tidak apa ini memang luka kecil, luka kecil yang setiap hari ditorehkan pada dirinya, desir hati itu. Ia terlalu rapuh, ia terlalu lemah, ia tidak berdaya! Ia menangis dihadapanku, kalian tahu bagaimana rasanya melihat makhluk kecil itu? Sakit! Akhirnya, setelah puas duduk mendengarkan tangisannya ia bercerita. Hati kecil itu mulanya hati kecil yang sangat periang dan ceria, dia tak pernah bersedih, menangis atau apapun. Tertawa adalah hidupnya. Hingga suatu saat ada yang membuatnya menjadi seperti ini. Aku bertanya padanya, apakah itu? Tapi dia hanya menangis, tak sanggup bicara. Lagi-lagi, aku duduk mendengarkan tangisannya.

Setelah beberapa menit berlalu, aku memutuskan untuk meninggalkannya. Tidak, aku bukan bermaksud jahat padanya. Aku rasa dia membutuhkan waktu, untuk menenangkan diri tentunya. Akhirnya aku menapakkan kakiku sedikit demi sedikit menjauhi makhluk rapuh itu. Sampai akhirnya....... aku bertemu dengan sebuah makhluk menjijikkan yang nampak seperti gumpalan mie, siapa dia? Aku mendekatinya, berbeda dengan makhluk rapuh tadi, makhluk menjijikkan ini tampak kuat dan sehat. Hanya saja, dia tampak banyak berpikir dan lbh sering diam. aku penasaran dengan makhluk itu, kudekati dia. Wajahnya tampak pucat ketika ia mendongak dan melihat wajahku. Aku menyamakan posisi dengan makhluk itu, bicara lebih mudah begitu bukan?

"Apa kau melihat kawanku?" Kata pertama yang dia ucapkan ketika melihat wajahku. Aku mengertukan dahi tanda tak paham. Ia mengerti, lalu ia tersenyum dan menjawab "Si kecil bodoh yang tampak menyedihkan.." Ah, aku mengerti.. makhluk kecil itu rupanya. Aku mentap matanya "memangnya ada apa dengannya?" si menjijikan itu hanya tersenyum kecil dan mentapku "Kau ingin aku menceritakannya padamu?"

-to be continued-

0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 12 Juli 2013

kejujuran yang terbisu.

Ketika itu aku masih terdiam memandangi langit kamarku. Pikiranku terbagi-bagi oleh banyak hal, terlampau banyak. Aku tidak mengerti apa yang ada didalam pikiranku saat ini, jika diibaratkan sebuah paragraf semua pikiran-pikiran itu seolah menjadi anak kalimat yg akan mengaju ke sebuah induk kalimat. Iya, induk kalimat itu hanya sebuah kata, kamu.

Baiklah aku tidak mengerti harus memulainya darimana, tapi kuharap kalian bisa memahami apa yang aku maksud. Ini ada sepotong cerita pagi saat matahari belum terbit. Waktu dimana matahari belum terbit adalah saat terbaik bagiku untuk merenung. Ya, merenung. Saat itu aku sedang menikmati sensasi bergelut dengan hati dan pikiranku. Luar biasa! Lebih dari segala apapun. Entah, aku rasa kalian sudah pernah merasakannya -hanya mungkin kalian tidak menyadarinya.

Esok itu, aku mendengar hati kecil ku menangis. Tangisannya lebih menyeramkan daripada tangisan orang histeris. Aku mendekati hati kecil itu. Kasihan sekali dia, banyak sekali luka didekitar tubuhnya. Ah, tidak apa ini hanyalah luka kecil, katanya. Aku selalu berpikir, luka kecil bagaimana? Lihat saja dirinya! Kakinya rapuh, tangannya tergores, badannya seperti tersabit pedang, matanya sudah membengkak lebih besar dari buah anggur. Hati itu tersenyum, tidak apa ini memang luka kecil, luka kecil yang setiap hari ditorehkan pada dirinya, desir hati itu. Ia terlalu rapuh, ia terlalu lemah, ia tidak berdaya! Ia menangis dihadapanku, kalian tahu bagaimana rasanya melihat makhluk kecil itu? Sakit! Akhirnya, setelah puas duduk mendengarkan tangisannya ia bercerita. Hati kecil itu mulanya hati kecil yang sangat periang dan ceria, dia tak pernah bersedih, menangis atau apapun. Tertawa adalah hidupnya. Hingga suatu saat ada yang membuatnya menjadi seperti ini. Aku bertanya padanya, apakah itu? Tapi dia hanya menangis, tak sanggup bicara. Lagi-lagi, aku duduk mendengarkan tangisannya.

Setelah beberapa menit berlalu, aku memutuskan untuk meninggalkannya. Tidak, aku bukan bermaksud jahat padanya. Aku rasa dia membutuhkan waktu, untuk menenangkan diri tentunya. Akhirnya aku menapakkan kakiku sedikit demi sedikit menjauhi makhluk rapuh itu. Sampai akhirnya....... aku bertemu dengan sebuah makhluk menjijikkan yang nampak seperti gumpalan mie, siapa dia? Aku mendekatinya, berbeda dengan makhluk rapuh tadi, makhluk menjijikkan ini tampak kuat dan sehat. Hanya saja, dia tampak banyak berpikir dan lbh sering diam. aku penasaran dengan makhluk itu, kudekati dia. Wajahnya tampak pucat ketika ia mendongak dan melihat wajahku. Aku menyamakan posisi dengan makhluk itu, bicara lebih mudah begitu bukan?

"Apa kau melihat kawanku?" Kata pertama yang dia ucapkan ketika melihat wajahku. Aku mengertukan dahi tanda tak paham. Ia mengerti, lalu ia tersenyum dan menjawab "Si kecil bodoh yang tampak menyedihkan.." Ah, aku mengerti.. makhluk kecil itu rupanya. Aku mentap matanya "memangnya ada apa dengannya?" si menjijikan itu hanya tersenyum kecil dan mentapku "Kau ingin aku menceritakannya padamu?"

-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

LOVEPUCCINO ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea

Happy Cat Kaoani