Aku berlari ketempat tadi, aku mendatangi makhluk kecil itu. Ah makhluk kecil yang malang, bertahanlah! Aku sekarang tahu apa yang harus aku lakukan untukmu! Aku terus berlari ketempat yang tadi, tapi nihil. Makhluk kecil itu telah hilang... Aku terlambat!
"Hai, apa kau mecariku?" Suara itu..... Makhluk itu! Aku memutar badan dan mendapatinya sedang tersenyum dibawah pohon. Duduk dengan damai disana. Akupun mendekatinya.
"Kau sudah mendingan?" Tanyaku seraya duduk disebelahnya.
Makhluk itu mengangguk. "Jauh lebih baik dari sebelumnya.."
Aku meluruskan kaki dan menatap makhluk kecil itu, "Tentang bayangan itu..."
Makhluk itu.. tersenyum? Astaga senyumnya manis sekali, dia memang terluka tapi dia manis ketika tersenyum. Makhluk menjijikkan itu ternyata benar.
"Jadi, siapa yang memberitahukan ini? Sahabatku diseberang sana?"
Makhluk kecil itu hanya tersenyum dan menghela napas "Menurutmu aku bodoh, hmm?"
"Ah.. Bukan.. Aku.."
"Izinkan aku menyelesaikannya.." Potong makhluk itu.
"Iya, awalnya aku mengira aku ini memang bodoh. Aku memandang semua masalah ini dengan sebelah mata. Dengan kasat, bukan secara detail." Ia menghela napas kembali "Bagiku, Bayangan itu sangat berharga. Aku menyayanginya lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Lalu, untuk apa aku mengekang dia demi kebahagiaanku? Bukankah aku egois jika seperti itu?"
Aku mengangguk.
"Ya, jadi aku putuskan untuk merelakannya sementara ini. Biarlah dia berkelana dulu, dia butuh waktu aku yakin." Makhluk itu mendongakkan kepala dan menatap awan biru disela-sela rimbunnya dedaunan hijau. Luar biasa indah! "Lagipula, dia tidak meninggalkanku.."
Aku menatap lekat pada makhluk itu. Bagaimana tidak? Jelas-jelas dia bersama yg lain!
"Kau masih harus banyak belajar. Kau tidak tahu masa depan bukan? Cinta tak bisa kau dapatkan dengan paksaan. Cinta hanya bisa kau dapatkan dengan kelembutan."
"Lalu apa rencanamu?" Aku bingung menatap makhluk itu.
"Aku sama sekali tidak punya rencana.."
Aku mengerutkan dahi. Bagaimana bisa?
"Ya, hanya bersanding dengannya dalam suka dan dula, memberinya kenyamanan, memberinya ketentraman, merawatnya dengan kasih sayang dan setia kepadanya sebisa mungkin. Bukan hal sulit bukan?"
Aku lagi lagi mengangguk. Ah, benar sekali dia. Aku merasa malu padanya, dia seperti malaikat. Bagaimana bisa aku sempat berpikir bahwa dia bodoh?
Makhluk itu menatapku "Aku harap, suatu saat cinta dan keberuntungan memihak padaku.."
Ia tersenyum, dan ku balas dengan senyuman pula. Semoga beruntung, hati kecil yang rapuh :)
- end -
terimakasih untuk inspirator saya, masih inspirator yang sama.. kamu :)
sudut kotak merah muda, 15 Juli 2013.


blog mu lucu yuk :3
BalasHapusJngan berhenti :) sesama pemilik blog.. blog anda sangat bagus
BalasHapus